Snippet

cacing rambut (Tubifisid)

Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi cacing rambut (Tubifisid) sebagai berikut :
Phylum : Annelida
Kelas : Oligochaeta
Ordo/bangsa : Haplotaxida
Famili/suku : Tubificidae
Genus/marga : Tubifex
Spesies/ jenis : Tubifex sp
Cacing Tubifex sering juga disebut cacing rambut karena bentuk dan ukurannya seperti rambut. Ukurannya kecil dan ramping, panjang 1- 2 cm. warna tubuhnya kemerah – merahan. Cacing ini termasuk kelompok nematode. Tubuhnya beruas – ruas. Cacing ini memiliki saluran pencernaan. Mulutnya berupa celah kecil, terletak didaerah terminal. Saluran pencernaannya berujung pada anus yang terletak di bagian sub- terminal.
Cacing Tubifex banyak hidup di perairan tawar yang airnya jernih dan sedikit mengalir. Dasar perairan yang disukai adalah berlumpur dan mengandung bahan organik. Makanan utamanya adalah bahan – bahan organik yang telah terurai dan mengendap di dasar perairan. Cacing ini akan membenamkan kepalanya masuk dalam lumpur untuk mencari makan. Sementara ujung ekornya akan disembulkan di atas permukaan dasar untuk bernafas. Perairan yang banyak dihuni cacing ini sepintas tampak seperti koloni lumut merah yang melambai – lambai.
Cacing tubifex adalah organisme hermaphrodite. Pada satu individu organisme ini terdapat 2 alat kelamin. Hasil perkembangbiakannya berupa telur yang dihasilkan oleh cacing yang telah mengalami kematangan sekelamin betinanya. Telur ini selanjutnya dibuahi oleh cacing lain yang kelamin jantannya telah matang.



Cara Budi daya Pakan alami cacing rambut (Tubifex sp)

Cara Budi Daya di Parit
Wadah yang digunakan untuk budi daya Cacing Tubifex adalah parit beton atau kotak kayu dengan lebar 50 cm panjang 5-10m, lebar 50 cm dan tinggi 20-30 cm. yang telah dilapisi plastik. Media budi daya yang digunakan berupa campuran kotoran ayam segar dan lumpur kolam dengan perbandingan 1 : 1. media ini diratakan di dasar parit dengan ketebalan 5 cm dan selanjutnya diairi dengan debet 900 ml/ liter.
Sehari setelah media diairi air, bibit cacing ditebarkan sebanyak 2 g untuk setiap meter persegi media. Untuk menjaga keberadaan pakan cacing, setiap minggu sekali dilakukan pemupukan dengan kotoran ayam yang diberikan untuk pemupukan ulang sebanyak 9% dari jumlah kotoran ayam awal.
Setelah 2 bulan pemeliharaan, cacing sudah dapat dipanen. Selanjutnya panen dilakukan setiap 2 minggu sekali. Cara memanennya, cacing diambil secara acak pada populasi yang padat dengan bantuan serokan kemudian dimasukan ke ember yang sudah berisi air. Cacing yang diambil biasanya masih kotor karena media pemeliharaan ikut terbawa. Agar cacing keluar dari medianya, permukaan ember ditutup selama 6 jam. Biasanya setelah 6 jam cacing akan anik ke permukaan air. Cacing yang bergerombol di permukaan ini selanjutnya diambil dengan tangan.

Produksi massal cacing tubifex
Istilah produksi massal Cacing Tubifex adalah upaya menumbuhkan dan mengembangbiakkan cacing ini dalam tempat (lahan) pemeliharaan yang terkontrol. Tempat pemelliharaannya berupa kubangan tanah berlumpur dan tergenang air. Secara berturutan, kegiatan produksi Cacing Tubifex adalah membuat kubangan, mempersiapkan dasar kubangan agar lberlumpur dan tergenang air, memelihara dan memungut hasil (panen).
Lahan pemeliharaan Cacing Tubifex dibuat di daerah berair. Bentuknya mirip kolam dan luasnya 10 x 10 m atau lebih. Lahan ini dilengkapi dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air. Dasar kolam dibuat petakan – petakan (blok) lumpur setinggi 10 cm. luas petakan ini 1 x 2m. lebih baik jika dasar petakan (blok) ini dilapisi papan kayu atau dibentuk dalam cetakan. Lapisan atau cetakan ini untuk mempermudah pemanenan dan sebagai penangkal cacing yang akan meloloskan diri masuk dalam tanah yang lebih dalam lagi. Jarak antara petakan adalah 20 cm agar memudahkan dalam memanen.
Seperti pemeliharaan ikan pada umumnya, lahan untuk produksi Cacing Tubifex perlu disiapkan. Mulanya dikeringkan, saluran diperbaiki dan tanah digemburkan serta digenangi air setinggi 5 cm dari permukaan dasar. Selanjutnya dipupuk dengan dedak halus atau kotoran ayam. Pemupukan bertujuan untuk menyediakan makanan Cacing Tubifex yang dipelihara. Sebelum ditebarkan, kotoran ayam yang kering dan halus ini dicampurkan lalu dihaluskan. Pupuk kotoran ayam yang kering dan halus ini dicampurkan dengan tanah dasar (blok) petakan lalu direndam air setinggi 5 cm selama 3 hari. Maksud perendaman ini adalah agar dedak halus atau pupuk segera membusuk sehingga disukai cacing sebagai makanannya.
Sebelum bibit ditebarkan, aliran air dikontrol agar alirannya stabil. Aliran air tidak terlalu besar tetapi cukup untuk mengisi air yang menguap dan meresap dalam tanah. Kalaupun kelebihan aliran air, diusahakan agar tidak menimbulkan erosi, apalagi membawa bahan – bahan hasil pemupukan. Aliran air untuk mengisi tempat pemeliharaan ini diperkirakan sampai setinggi 5 cm di atas dasar petakan yang kira – kira membutuhkan waktu 45 – 60 menit.
Penebaran bibit dimulai dengan membuat lubang kecil – kecil di atas bedengan (petakan/blok). Jarak antar lubang 10 – 15 cm dan lubang ini selanjutnya diisi dengan koloni bibit cacing hasil penangkaran beserta media dan tanahnya. Jumlah cacing dalam koloni yang “ditanam” setiap lubangnya 10 ekor.
Masa pemeliharaan produksi cacing ini sekitar 10 hari. Bila kondisi lingkungan cocok dan jumlah pakannya cukup, bibit – bibit cacing itu akan berkembang pesat. Hal yang perlu diperhatikan dalam produksi massal Cacing Tubifex adalah air. Meskipun aliran air harus kecil, tetapi jangan sampai kekeringan.
Memanen Cacing Tubifex sangat mudah, yakni diambil dengan tangan beserta lumpurnya. Kemudian ditaruh dalam ember dan dicuci bersih. Panen Cacing Tubifex sebaiknya dilakukan secara acak, yaitu tidak seluruh populasi cacing pada setiap bedengan diambil, tetapi disisakan sebagian sebagai bibit pada pemeliharaan berikutnya. Panen total hanya dilakukan jika kondisi tanah dan mediannya tidak cukup lagi menyediakan makanan. Keadaan ini dapat diketahui setelah perkembangan cacing kelihatan lambat. Untuk produksi lebih lanjut setelah panen total, bedengan harus dibongkar dan di olah seperti biasa.

Leave a Reply